Isnin, 4 Julai 2011

Kuala lumpur 1850 - 1930 Hj Abdullah Hukum ..22

         Ziarah  Kubur........Pengalaman semasa di dusun .

Tuan Hj Abdullah Hukum
Dua hari di belakang saya pun ziarah ke kubur ayahnda tercinta  di Gunung Kelikir , kira2 setengah km dari dusun saya Sungai Abu , yaitu suatu tempat yang tinggi dan mendaki kesana .

Sebagai kenangan saya menukar batu nesan kaburan orang tua saya dengan yang baru .

    Kemudian saya melawat pula jiran dusun saya yang namanya dusun Koto Tebat di mana disana ada suatu makam yang dipuja orang , yang kata nya keramat besar disana .

Rupanya saya di izin kan masuk ke dalam kawasan perkuburan itu , saya dapati  didalam nya penuh dengan panji-panji ada yang kuning , yang hitam ,ada puteh bergayutan sana sini.

Saya di pandu orang disitu ke tempat batu besar yang mana konon nya ada kesan tangan keramat , dan ramai orang disitu memintak pertolongan yang katanya ada  jin  disitu..

   Oleh kerena  pada pengajian saya perbuatan yang demikian karut boleh membawa kepada syirik.......

Entah kerena tiada serupa apa yang saya belajar dengan perbuatan orang disana , saya terlanjur menista  ketua-ketua  kampung disana  sayakan bodoh dengan kerja seperti ini dan banyak lagi yang saya katakan pada mereka, berani  sayakan kerena disana orang bawah dari saya dan memang patut saya nasehat kan ,dan lagi saya di gelar Rio Jayo Galang Negeri oleh suku dalam kelompok di dusun Sungai Abu...
Setelah katakan itu sehingga orang disana menesehati saya jangan takbur kepada keramat disana , ditakuti  mendapat bencana atau sakit dll.

    Mendengar yang demikian itu apa lagi bertambah marahnya saya lalu saya menepuk dada dan berkata  jika betul ada jin  yang tuan - tuan sembah itu  mari lah makan saya ini .....saya katakan ......tiada yang patut di sembah selain dari pada Allah .swt. ...

    Dan malam itu juga saya pergi lagi saya guling kan batu itu serta campakan dari situ dan persiapan-persiapan segala macam alat persembahan di situ saya buang kesemua nya.....

Akhirnya saya memberi nasehat panjang lebar dengan orang disitu , agar menjauhi dari perkara -perkara yang membawa kesesatan......Saya rasa sampai sekarang tiada apa yang mendatangkan bencana kepada saya .
Saya hanya duduk ( tinggal ) di kampung saya selama enam hari lima malam saja .....dan kami pun bertolak balik dengan motorcar ( sedan Dodge ) saya itu , se sampai nya di Belawan kami tergendala mengambil wang  dhaman ( deposit ) ketika masuk dulu .

    Jumlah minyak yang kami pakai untuk pergi balik kira-kira 230 galon ( x3,75 L ) dan jauh nya dulu 2060 km , dan inilah kali pertama saya ziarah ke kampung mungkin juga kali ter akhirnya...
Semenjak itu saya bekekalan  tinggal di kampung saya ini Bangsar Road  hingga hari ini......


Demikian lah tamat riwayat Kuala Lumpur dan Hj Abdullah Hukum yang menempuh banyak suka dan duka serta ber bagai-bagai di dalam kehidupan nya......dari usia 15 tahun pada th 1850 hingga sekarang th 1935 dan itu hasil temu bual  Wartawan Warta Ahad  dalam bahasa Melayu tulisan Arab.

photo tahun 18-3- 1935



Inilah gambar keluarga besar,
Tuan Hj Abdullah Hukum .
Anak lelaki  dan Perempuan  sebanyak 18 orang.
cucu baru 53 orang , cicit 17 orang. di th 1935.
dan sekarang keturunan nya hampir 2000 orang.
di tahun 2011.

Sabtu, 2 Julai 2011

Kuala lumpur .1850--1930. Hj Abdullah Hukum. .21.

PULANG  KE  KERINCI.

Kira kira lebih kurang delapan tahun kemudian saya pun penat rasa nya  menjadi ketua itu , sebab badan saya telah berumur dan umur saya sudah lebih 70 tahun ketika itu .

Maka pada 13 Januari 1912 saya pun menghantar surat kepada Tuan Collector menyerahkan pangkat sebagai ketua kampung , lalu diterima nya dan semenjak itu tiada lah saya ketua lagi

   Kemudian atas sokongan di antara Tuan Creason atau Tuan Boyd , maka pada 1Ogos 1922 saya di kurnia pencen ( pensiun ) yang saya terima sehingga sekarang ini.
 
   Semenjak saya meninggal kan kampung halaman saya di Sungai Abu Kerinci Sumatra ,tiada saya pernah balik ziarah ke Sumatra melain kan pada tahun 1929 pada masa itu saya sudah tinggalkan lebih kurang 79 tahun , kerena pernah suatu ketika dulu ber bangkit keinginan saya yang amat sangat rindu kan kampung tempat tanah tumpah darah .

   Maka saya pun berkira dengn anak cucu saya , yang saya kebetulan ada mempunyai motorcar jenis Dodge.

Oleh karena perjalanan saya itu melebihi beribu batu ,saya tetapkan motorcar saya lebih senang berjalan dari satu tempat ke satu tempat . Saya bertolak dari rumah pada bulan Desember 1929 . menuju Belawan  di kerajaan Deli Sumatra  bagian utara berserta dengan istri saya ,seorang budak ,cucu saya ,dan orang anak saya yaitu ; Mahmud dan Hj Abdul Samad ke dua2 anak saya ini adalah sebagai pemandu motor car .

  Dari Belawan kami mulailah pakai kenderaan sendiri melalui Medan , Tebing Tinggi dan ber malam di pekan yang bernama Pematang Siantar .  Besok pagi nya setalah  minum pagi kami terus kan perjalanan kami kira2 pukul 2 petang sampai kami di Kota Nopan ( Madahiling ) juga bermalam di situ .

Pada esok pagi nya seperti biasa setelah minum pagi kami teruskan perjalanan kami ke Rawa Rawa Kemanga ( Rao Minangkabau ).kami singgah di rumah Tuan Hj Abdul Samad ayahnda Almarhum Tuan Hj Muhammad Taib J.P ( Jaksa Pendamai )...

dodge
   Di situ kami bertemu dengan Tuan Hj Muahyudin , yaitu menantu Tuan Hj Muhammad Taib JP.( sekarang tinggal di Pudu Road Kuala Lumpur )...besok nya kami berangkat ke Padang tiba disitu  pukul 2 petang dan juga bermalam disitu

..Pagi besok nya kami bertolak sampai pula di Batang Kapas pukul 2petang kami tidak bermalam disitu , perjalanan kami teruskan sampai di Air Haji pukul  1 tengah malam maka terpaksa pula bermalam perjalanan tidak dapat di terus kan kerena air bah ( banjir ) pada masa itu.

Pada esok nya dengan tiada bertangguh lagi kami pun teruskan perjalanan kami sehingga sampai di Tapan .
   Apa bila sampai di Tapan saya merasa se olah olah sudah berada di negeri saya , kerena perjalanan itu hanya tinggal tiga empat jam lagi oleh kerena jalan ke Kerinci kecil tiada dapat berselisih jalan dengan motor car dari arah Kerinci , maka kami menunggu motor car ( mobil sedan ) dari  Kerinci habis turun baru lah nanti nya baru kenderaan kami boleh jalan ... Oleh menunggu itu agak lama dan kebetulan pula masa itu hari Pakan
atau hari balai ( lambah Malaysia ). maka kami pun ber jalan2 melihat nya ... Saya dapati semua manusia

disitu Melayu dari berbagai suku bangsa , dan disitulah saya melihat segala nya orang Melayu , yang ber niaga nya , yang membeli nya , tukang besi nya , tukang kayu nya ,tukang tembaganya , tukang pangkas ( cukur ),tukang emasnya , semua Melayu belaka serba serbi nya orang Melayu tenunan kain nya , jual itik ,ayam , kambing, kerbau , sapi ,...bukan main senangnya saya melihat yang demikian itu , sampai bau nya pun bau Melayu .

   Kira kira Tengah hari motor car ( Mobil Sedan ) dari Kerinci pun sampai dan diberitau tiada lagi kenderaan  yang datang dari Kerinci , maka kami pun naik lah menuju Kerinci dan sampai di dusun Sungai Abu tempat saya dilahirkan lk 80 tahun dulu lalu saya naik kerumah yang telah lama saya tinggalkan . .. Dengan linangan air mata Tuan Hj Abdullah Hukum menceritakan ......dan katanya lagi ....tidak dapat saya katakan betapa sayu nya dikala itu, dan tergambar2 masa  kecil dulu di halaman rumah ada talaga kecil tempat kami ber main2 dengan rakan  80 tahun dulu , dan semasa itu kawan pun banyak yang telah tiada , jangan kan yang tua yang dibawah saya banyak telah berpindah ke alam baka , yang ada anak cucu nya kaum kerabat dan kawan2 yang tinggal .



bersambung;; bagian akhirnya riwayat  kuala lumpur , hj abdullah hukum.

dipetik; dari hasil temu bual wartawan warta ahad  pada th 1935.dgn tuan hj.abdullah hukum.

PUSAKA TINGGI ,munurut adat Perpatatih.

 Dalam lingkungan adat perpatih .                                                                                                                                                                         

Perbedaan pandapek tentang harato pusako ko sabananyo telah terjadi sejak dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy, malah beliau mengarang sebuah kitab berjudul :
Ad Doi’ al Masmu’ fil Raddi ‘ala Tawarisi al ‘ikwati wa Awadi al Akawati ma’ a Wujud al usuli wa al Furu’i,
yang artinya : Dakwah yang didengar Tentang Penolakan Atas Pewarisan Pewarisan Saudara dan anak Saudara Disamping Ada Orang Tua dan Anak. Kitab itu di Tulis di Mekah pada akhir abat ke XIX. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam Dalam Adat Minangkabau 275 ) Namun, beliau beda pandapek dengan murid beliau seperti Syekh Dr.H.Abd.Karim Amrullah. Murid beliau Syekh Rasul ( H.Abdul Karim Amrullah ) ulama yang belakan ini melihat harta pusaka dalam bentuk yang sudah terpisah dari harta pencarian.
Beliau berpendapat bahwa harta pusaka itu sama keadaannya dengan harta wakaf atau harta musabalah yang pernah diperlkukan oleh Umar ibn Kattab atas harta yang didapatnya di Khaybar yang telah dibekukan tasarrufnya dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Penyamaan harta pusaka dengan harta wakaf tersebut walaupun ada masih ada perbedaannya, adalah untuk menyatakan bahwa harta tersebut tidak dapat diwariskan. Karena tidak dapat diwariskan, maka terindarlah harta tersebut dari kelompok hata yang harus diwarisklan menurut hukum Faraid; artinya tidak salah kalau padanya tidak berlaku hukum Faraid. Pendapat beliau ini di ikuti oleh ulama lain di antaranya Syekh Sulaiman ar Rasuli. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam Dalam Adat Minangkabau 278)
Kemudian Buya Hamka berpendapat tentang harta pusaka sebagai berikut :
Yang pertama “Bahwa Islam masuk ke Minangkabau tidak mengganggu susunan adat Minangkabau dengan pusaka tinggi. Begitu hebat perperangan Paderi, hendak merubah daki-daki adat jahiliyah di Minangkabau, namun Haji Miskin, Haji A.Rachman Piobang, Tuanku Lintau, tidaklah menyinggung atau ingin merombak susunan harta pusaka tinggi itu. Bahkan pahlawan Paderi radikal, Tuanku nan Renceh yang sampai membunuh uncu-nya (adek perempuan ibunya) karena tidak mau mengerjakan sembahyang, tidaklah tersebut, bahwa beliau menyinggung-nyinggung susunan adat Itu, Kuburan Tuanku Nan Renceh di Kamang terdapat di dalam Tanah Pusako Tinggi”. (IDAM hlm 102 )
Yang kedua : “Tetapi Ayah saya DR. Syekh Abdulkarim Amrullah Berfatwa bahwa harta pusaka tinggi adalah sebagai waqaf juga, atau sebagai harta musaballah yang pernah dilakukan Umar bin Khatab pada hartanya sendiri di Khaibar, boleh diambil isinya tetapi tidak boleh di Tasharruf kan tanahnya. Beliau mengemukan kaidah usul yang terkenal yaitu; Al Adatu Muhak Kamatu, wal ‘Urfu Qa-Dhin Artinya Adat adalah diperkokok, dan Uruf ( tradisi) adalah berlaku”. (IDAM hlm 103)
Yang ke tiga : Satu hal yang tidak disinggung-singgung, sebab telah begitu keadaan yang telah didapati sejak semula, yaitu harta pusaka yang turun menurut jalan keibuan. Adat dan Syarak di Minangkabau bukanlah seperti air dengan minyak, melainkan berpadu satu, sebagai air dengan minyak dalam susu. Sebab Islam bukanlah tempel-tempelan dalam adat Minangkabau, tetapi satu susunan Islam yang dibuat menurut pandangan hidup orang Minangkabau. (Hamka, Ayahku hlm. 9)
Yang ke empat : “Pusaka Tinggi” inilah dijual tidak dimakan bali di gadai tidak dimakan sando (sandra). “Inilah Tiang Agung Minangkabau” selama ini. Jarang kejadian pusako tinggi menjadi pusako rendah, entah kalau adat tidak berdiri lagi pada suku yang menguasainya (Hamka, dalam Naim, 1968:29)
Keputusan Seminar
I. Keputusan pada Seminar atau Musyawaratan Alim Ulama, Niniak mamak dan cadiak pandai Minangkabau pada tanggal 4 s/d 5 Mei 1952 di Bukittinggi maka Seminanr menetapkan :
1. Terhadap “Harta Pencarian” berlaku hukum Faraidh, sedangkan terhadap “Harta Pusaka” berlaku hukum adat.
2. Berhubung I.K.A.H.I. Sumbar ikut serta mengambil keputusan dalam seminar ini, maka Seminar menyerukan kepada seluruh Hakim-hakim di Sumbar dan Riau supaya memperhatikan ketetapan Seminar ini ( Naim 1968 : 241)
II. Kemudian pada Seminar Hukum Adat Minangkabau tahun 1968 di Padang, yang di hadiri oleh para cendikiawan dan para ulama Minagkabau, ditetapkan bahwa terhadap harta pencaharian berlaku hukum faraidh, dan terhadap harta pusaka tinggi berlaku hukum adat. Selanjutnya, tentang hukum waris diputuskan sebagai berikut :
a. Harta pusaka di Minangkabau merupakan harta badan hukum yang diurus dan diwakili oleh Mamak Kepala Waris di luar dan di dalam peradilan.
b. Anak kemenakan dan mamak kepala waris yang termasuk ke dalam badan hukum itu masing-masingnya bukanlah pemilik dari harta badan hukum tersebut. (Naim, 1968:243)
Kemudian Dr.Amir Syarifuddin berpendapat, bahwa pewarisan menurut adat bukanlah berarti peralihan harta dari pewaris kepada ahli waris, tetapi peralihan peranan atas pengurusan harta pusaka itu. Dengan demikian terlihat adanya perbedaan dalam system. Perbedaan tersebut akan lebih nyata dalam keterangan di bawah ini.
Pertama: harta pusaka melekat pada rumah tempat keluarga itu tinggal dan merupakan dana tetap bagi kehidupan keluarga yang tinggal di rumah itu. Harta itu dikuasai oleh perempuan tertua di rumah itu dan hasilnya dipergunakan untuk manfaat seisi rumah. Pengawasan penggunaan harta itu berada di tangan mamak rumah. Bila mamak rumah mati, maka peranan pengawasan beralih kepada kemenakan yang laki-laki. Bila perempuan tertua dirumah itu mati, maka peranan penguasaan dan pengurusan beralih kepada perempuan yang lebih muda. Dalam hal ini tidak ada peralihan harta.
Penerusan peranan dalam system kewarisan adat, adalah ibarat silih bergantinya kepengurusan suatu badan atau yayasan yang mengelola suatu bentuk harta. Kematian pengurus itu tidak membawa pengaruh apa – apa terhadap status harta, karena yang mati hanya sekedar pengurus.
Hal tersebut di atas berbeda sama sekali dengan bentuk pewarisan dalam hukum Islam. Dalam Hukum Islam pewarisan berarti peralihan hak milik dari yang mati kepada yang masih hidup. Yang beralih adalah harta. Dalam bentuk harta yang bergerak, harta itu berpindah dari suatu tempat ketempat yang lain. Sedangkan dalam bentuk harta yang tidak bergerak, yang beralih dalam status pemilikan atas harta tersebut.
Kedua dan yang merupakan ciri khas dari harta pusaka ialah bahwa harta itu bukan milik perorangan dan bukan milik siapa -siapa secara pasti. Yang memiliki harta itu ialah nenek moyang yang mula-mula memperoleh harta itu secara mencancang melatah. Harta itu ditujukan untuk dana bersama bagi anak cucunya dalam bentuk yang tidak terbagi-bagi. Setiap anggota dalam kaum dapat memanfaatkannya tetapi tidak dapat memilikinya. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam Dalam Adat Minangkabau 269-270)
Maka dengan demikianlah, jelaslah bahwa telah ada kesepakatan para alim ulama, niniak mamak, dan cadiak pandai tentang status harta pusaka itu sebagai warih bajawek, pusako batolong dari niniak turun kemamak dari mamak turun kekemanakan. Dan kemudian diturunkan pula kebawah menurut jalur Ibu dalam kaum atau suku yang bersangkutan. Indak buliah dihilang dilanyokkan, kok dibubuik layua dianjak mati, dijua indak dimakan bali di gadai indak dimakan sando.
Kemudian seperti sering saya kemukakan, bahawa harta pusaka itu adalah sebagai bukti, “asal usul” bahwa seseorang itu dapat dikatakan keturunan Minang ( Etnis Minangkabau) apabila mempunyai harta pusaka tiunggi. Dalam adat dikatokan, “nan ba pandam ba pakuburan nan ba sasok bajarami, kok dakek dapek di kakok, kok jauah dapek di antakan”. Seseorang nan indak punyo atau indak lai mempunyai harta pusaka, berarti indak lai basasok bajarami, tidak ba pandam ba pukuburan, maka orang atau keluarga yang telah habis harta pusakanya tidakalah lagi langkap Minangnyo. Indak lai baurek tunggang, indak bapucuak bulek, atau dengan kato lain kateh indak bapucuak kabawah indak baurek orang tersebut dapat juga dikatakan “punah” punah dalam hal harta pusaka menurut aturan adat, jika dia meninggal dia dikatakan mati ayam mati tunggau. Malah ada pendapat para ahli adat, mangatokan bahwa apabila satu kaum sudah abih harato pusakonya, mako indak paralu lai ma angkek seorang panghulu, karena adat itu berdiri di ates pusako, cancang balandasan lompek basitumpu.
Harta pusaka itu adalah sebagai alat permersatu dalam jurai, kaum, dan bagi masyarakat Minang pada umum, sekaligus untuk mengetahui, nan sa asa sakaturunan menurut jalur adat.
Harta tersebut juga sebagai harta cadangan, jika ada dunsanak kemanakan yang kehidupannya agak susah di perantauan boleh babaliak kakampung uruihlah harata itu. Oleh karenanya dapat kita bayangkan jika harta pusaka di Minangkabau
di perjual belikan, maka masyarakat Minangkabau akan sama nasibnya dengan masyarakat daerah-daerah lain, akan tersingkir dari nagari asalnya sendiri
Harta itu adalah amanah, yang boleh hanyo diambil asilnya dan tidah untuak dimiliki, maka harta itu jangan sampai ilang atau lenyap ditangan kita. Karena harta itu bukanlah milik pribadi, tetapi adalah milik bersama, maka bersama-sama pula memeliharanya.
Namun, demikian jika ada yang berpendapat dengan mengatakan bahwa harta pusaka itu haram, itu adalah haknya. Tetapi bagaimana dengan pendapat para ulama Minangkabau diatas, apa itu tidak boleh di katakan sebagai “IJMAK” para ulama Minangkabau?
Dan selanjutnya, jika pendapat tersebut sudah sangat di yakini bahwa harta pusaka tersebut adalah haram menurut Agama. Mulailah terlabih dahulu dari diri sendiri, atas harta pusako nan saparuik, nan sakaum atau sapayung sapasukuan dan nan sanagari. Adat kan salingka nagari, pusako salingka kaum, tidak ada yang akan melarang, jika nan berhak telah sepakat untuk membuat apa saja atas harta pusaka tersebut. Dan kepada yang masih meyakini atas pendapat para uluma Minangkabau tersebut diatas, tentu juga itu merupakan hak, tidak ada pulah yang boleh memeksa kan ke endak. Ini tentu bukan berarti Taklid buta, kerana kita yakin para ulama Minang tersebut tentu telah melalui penelitian atau ITIHAT pula.
Demikianlah nan dapek ambo sampaikan, ambo mohon maaf jikok ado nan kurang pado tampeknyo.

Kuala lumpur 1850 - 1930 Hj Abdullah Hukum ...20.

Menjadi  To' mpat  dan menangkap penyamun.

   Oleh kerena saya yang te tuanya dan juga ketua membuka hutan Sungai Putih ( Bangsar Road ) saya pun diangkat saya pun diangkat menjadi ketua dengan persetujuan Penguhulu dan Tuan Collector dan saya digelar Datuk Dagang pada masa itu  ( To'mpat sekarang ).

Tuan Hj Abdullah Hukum
Berkata Tuan Hj Abdulah Hukum lagi........Apa bila saya tiada kuasa lagi untuk ber niaga kerbau lagi ,maka saya membulatkan tekad untuk berkebun lagi, tetapi saya menjadi ketua terpaksalah saya banyak kerja luar menguruskan anak buah seperti nikah kawin , menghadiri musyawarat, kekadang ada perselisih paham anak buah , serta pertengkaran pertengkaran dalam kawasan saya dan selalu dipanggil penghulu serta Tuan Collector .

   Paling tiada boleh saya tinggalkan bila ada keramaian menyertai mejujung duli Tuanku Syultan di istana nya Kelang apa lagi kalau ada keramaian nikah kawin putra dan putri Tuanku
Kira2 pada tahun 1905 Tuan besar Polis masa itu nama nya Tuan Cuscaden

 ...Pada masaitu saya tengah berkerja memotong kayu didalam hutan saya terkejut mendengar suara orang memitak tolong dengan menjerit berkata penyamun penyamun sambil meraung raung .......Entah bagai mana empat orang Cina yang dikejar itu lalu depan saya , apa lagi saya dapat tangkap seorang dari empat orang itu dan bergumul berhepas pulas se hingga tiba2 rupanya dia ada membawa pestol dan tercampak kedalam sungai berdekatan . Adapun kawan yang tiga orang itu dapat melari kan diri yang seorang ini terus saya bawa ke rumah pasung.

   Akhirnya dia di hukum jel ...selpas di bicarakan Tuan Polis , yaitu Tuan Cuscaden memberi saya bakyis ( sagu hati )sebanyak 100 ringgit masa itu , dapat membeli 3ekor kerbau.waktu itu.

Kira2 tiga bulan selepas itu lebih kurang pukul 9 malam waktu itu saya ada di rumah dan saya terkejut dengan suara orang meminta tolong dari arah Batu 15. sayapun segera turun dari rumah , saya dapati seorang mata mata  Bengali sedang bergumul dengan seorang Cina , sesungguh nya Cina itu ada memegang pestol tetapi tidak dapat menembaknya  , maka saya pun tiada berlengah lagi saya pukul Cina itu ....Akhir nya dapat ditangkap rupanya kepala penyamun dan  dibawa Cina itu ke rumah pasung, tetapi besok hari nya Cina itu meninggal .

   Kemudian Tuan Cuscaden memberi saya bakyis 5ringgit dengan selaras senapang kopak istilah nya dulu yaitu sejenis senapang mata mata dulu semasa perang Pahang dulu nombor senapang itu  311 bangsa nya tertulis disitu  Enfied....Senapang ini masih ada saya simpan baik baik sampai sekrang ini tahun 1935.M.




bersambung ; saya mendapat pencen ( pensiun ).
ini dari mulanya kisah ; hasil dari wawancara wartawan Warta Ahad th 1935 dalam tulisan  Melayu Arab,..

Kuala lumpur 1850 - 1930 Hj Abdullah Hukum ...18.

Menyamar sebagai Putra Makota.


Saya sangat setuju  dengan syor yang seperti itu , maka saya ajukan yang akan meanjadi putra olok2 itu .
dungun  zaman dulu
     Kami ada se orang dari keluarga raja dari Sumatra untuk menjadi Putra tersebut itu , tetapi dia enggan juga takut nanti nya cara adat nya tak sama dengan yang disini  , dan tanya lagi yang lain semua mengeleng kan kepala   tiada yng sanggup .......Sedang kawan2 semua menunjukan kepada saya , kerena dia orang tahu saya selalu berdamping dengan orang besar sepeti tadi nya dengan Tengku Mahmud .
      Akhirnya terpaksa juga saya terima dengan alasan kawan2 itu yang tahu bahwasanya saya berkawan dengan orang besar kerajaan  tentunya dengan sediri tahu semua tata cara menjadi orang besar, dan bagai mana hendak melakukan nya ...
      Semejak itu saya tiada memasak nasi , tiada mencari kayu api atau ber beban dan saya kena memakai pakian di raja .....pakai seluwar Acheh .....berbaju mintan berbunga sutera juga lekat baju tweed kupiah Arab  sebilah pedang dan sebilah keris pula .   Apa saya tampil seperti itu terus di baca kan do'a selamat oleh kawan2 dan saya turut mengaminkan nya , tetapi dalam hati terasa juga gentar kerena nantinya akan berhadapan dengan penyamun hanya Allah dan Rasul Nya yang tahu ......
       Dengan inayat nya Allah kami pun selamat melalui jalan itu  tampa ada gangguan apapun serta sampai di Dungun .  Mula2 kami tanya surau dan kami pun sembayang bejema'ah kerena telah masuk waktu Asyar , dia orang tengok kami betul2 macam orang kuat beribadat , padahal fatihah nya saja tak begitu hafal .
Sementara itu di luar surau itu orang berdatangan menjadi ramai lah waktu itu mungkin kerena kami ini anak dagang ,kamipun keluar dari surau itu dan melihat kiri kanan yang rumah orang disana  atap nipah berdinding nipah jua adanya ....
rumah  beratap daun nipah
       Saya pun memberi salam pada salah seorang serta bertanya kan dimana rumah Penghulu nya dan orang tunjukan pada kami . Akhirnya kami dapat jumpa Penghulu disitu dan bertanya kan dimana rumah Raja Muda
Kawan2 saya semua kena bertuanku dan berpatik kepada saya , al maklumlah saya menjadi raja serta sa'at itu Penghulu memberi khabar kepada Raja Muda , yang mengatakan seorang raja hendak menghadap .
Sebetar itu jua kami dipersilakan naik kerumah oleh  Raja Muda , yang rumah beratap daun nipah berdinding papan bercat kuning.
      Apa bila sampai di tangga rumah Raja Muda saya pun memberi salam ,lalu disahut oleh Raja Muda sambil turun dari tangga mengiringi saya dan kawan2 naik kerumah serta menarik tangan saya mepersilakan duduk. Saya pun duduklah dengan hati yang tak tentu perasaan rasa takut ada rasa malu pun ada , kerena di sambut  begitu rupa tetapi saya terpaksa lakukan begitu demi keselamatan kami semuanya.
Waktu ditanya oleh Raja Muda itu , saya pun mengata kan yang nama saya Rio jayo Galang Negeri kerena itu memang gelar saya dari kampung Sumatra , dan saya katakan kami datang dari pada Negeri Kelang.



   bersambung.   Raja Muda itu hairan

Kuala lumpur 1850 - 1930 Hj Abdullah Hukum ...19.

Raja Muda hairan .

Raja Muda hairan tiada pernah mendengar nama Kelang dan belumpernah berjumpa dengan orang Kelang .
perarakan orang besar di Raja
Apa bila ditanya nya lagi tentang dari mana asal saya ....maka saya jawab ....saya berasal dari Jambi ......ketika itu juga Raja Muda terus tanyakan peri hal Syultan Thaha , yang rupanya dia kenal pula . ..Mujurlah dia tiada berapa kenal sangat akan Raja Jambi itu , jikalau tidak terbukalah tembelang kami .

     Sedang kan saya tiada berapa tahu akan hal tentang Raja Jambi itu , mujurlah saya dah tahu dia Raja Jambi itu dah tua ......Jadi apa2 pertanyaan

saya jawab belau telah tua dan saya telah lama meninggalkan Sumatra .
Dalam hal demikian kami diterima dengan baikdan makanan kami seperti hidangan orang2 besar kerajaan , yang dihidang kan ber dulang2 ,keadaan saya senan tiasa berdebar2.

     Pada masa itu saya bermalam di rumah Raja Muda , manakala kawan2 saya tidur pada rumah yang lain .
Raja Muda memberi saya seorang menjaga saya  tidur waktu itu .

Besok nya ditanya apa hajat datang , maka kami katakan bahwasanya kami hendak membeli kerbau maupun lembu , sebab saya telah menjadi Putra Raja maka pertuturan kami diantara saya dengan Raja Muda , yaitu pakai adinda kekanda saja seperti semua raja2 bertengku berpatik saja kepada saya .

Raja Muda memberi tahu ,yang saya boleh membeli kerbau tapi katanya hendak lah membayar cukau kepada
Raja Mansyur  itupun boleh saya uruskan kata nya .

     Kira2 dua hari lama nya Raja Mansyur datang lah atas jemputan Raja Muda tadi , maka Raja Muda bertitah  mengatakan saya datang hendak kehulu membeli kerbau dan bertitah hendah nya dilepaskan dari pada cukai kecuali orang saya .

sekawan kerbau
Raja Muda berpesan juga agar menjaga saya , anak Raja ini datang dari pada Kelang dan telah mintak izin dengan kita , wajib bagi kita menjaga nya jika tidak malu lah kita ....begitu lah pesannya kepada Raja Mansyur ...Harga kerbau itu se tinggi nya 16 ringgit seekor dan kerbau balar 14 ringgit.

      Denga titah Raja Mansyur itu kerbau dibawa ketepi sungai , dapat lah kami memilih mana yang kami mau
Dapat lah sa'at itukami membeli  45 ekor  dengan lembu sebanyak 30 ekor ......Saya singgah di rumah Raja Mansyur di Dungun dan saya di hormati orang jangan kan sebut makanan bermacam macam yang di antarkan kepada saya .....Apa bila saya balik ramai orang yang mengantar kan kami sampai ke Padang Janik dan disinlah kami berpisah dengan Raja Mansyur dan ber salam2am

      Perjalanan ke Kuala Lumpur waktu itu selama 16 hari ...maka kami berjalan balik dengan barang dagangan kami kerbau dan lembu dan sampai di Kuala Lumpur semua habis  dijual , dan saya tiada kuasa lagi hendak berjalan jauh inilah kali terakhir saya dan penghabisan berniaga kerbau ...



bersambung ; Menjadi Ketua dan Menangkap Penyamun.

Jumaat, 1 Julai 2011

Kuala lumpur .1850--1930. Hj Abdullah Hukum. ..12.

Orang Melayu Berkebun.


Tuan Hj Abdullah Hukum
Apa kala aman telah tersiar di Kuala Lumpur maka orang Melayu, dari segala suku bangsa dari Sumatra ramai yang datang , dan membuka tanah kebun serta membuat kampung ... Seperti orang Minangkabau , Kerinci, Mahdailing, Bangkahulu, Kampar , Tambusai , dan dari tempat lain seperti Bugis dari Celebes ( Sulawesi Selatan )dll.

    Di antara tanaman yang disukai masa itu ialah kopi dan lada hitam , oramg mulai berladang di Setapak , Hulu Gombak , Batu , Pudu , Petaling , serta tempat lain nya di sekitar Kuala Lumpur, dan saya pun kata Tuan Hj Abdullah Hukum; pada suatu hari  pergi menghadap Raja Laut di rumah nya kebetulan rumah nya di hadapan sekolah Melayu Gombak Lane ( dahulu namanya Kuala Gombak )..Adapun Raja Laut ialah putra Syultan Muhammad yang jadi Raja muda Selangor waktu itu.


     Kedatangan saya menghadap itu yaitui kerena mau memintak tanah, mujur bagi saya permintaan saya dilulus kan dan di bagi sepucuk surat kebenaran , serta sepucuk surat lagi pengangkatan saya sebagai Ketua dengan gelaran Penghulu Mesjid.   Oleh yang demikian ramai lah orang kita Kerinci mengikut saya dan tinggal Pudu yaitu dinama kan Bukit Bintang Sekarang .

meneroka tanah baru
     Duduklah ( tinggalah ) kami disitu dengan aman, bertanam sayur , tebu, pisang, dan sireh serta pokok yang cepat berbuah . Sedang kan ditempat lain banyak orang membuka sawah ...di Pudu saya lebih kurang enam tahun ke tujuh tahun .

     Di antara ber bagai perkerjaan yang saya teiah saya lakukan dan juga jadi nahkoda ,mengambil upah atau tambang membawa beras dari Kelang ke Kuala Lumpur dengan perahu , dengan upah sekoyan 40 ringgit ( 3 pikul = 3 x 62 kg takaran sekarang ), perahu saya buatan orang Linggi ( Negri Sembilan sekarang ) sedangkan pelayaran saya dari Kelang ke Kuala Lumpur selama 10 atau 15 hari dgn bergalah menyusuri sungai Kelang , kalau dimusim hujan hanya 3 atau 4 hari saja


      Orang puteh waktu tak lah ramai hanya ada lima enam  orang , yang ramai orang puteh di Melaka .
Pada masa itu yaitu Tuan Douglas , Tuan Sawyer dll , yang jadi kepala mata mata ( polis = polisi ) waktu itu ialah Sarjan Mejar ( sersan mayor ) Ahmad dan Sarjan Long orang dari Melaka ... Saya mula mula berjumpa orang ini di rumah Kapitan Yap Ah Loy ( yang orang angap dia orang pertama mendiri kan Kuala lumpur )untuk mendengar bicara ( sidang ) beberapa orang tertuduh mencuri padi , kerena saya sebagai Penghulu wal hasil nya bicara bi buang kerena tiada cukup bukti dan keterangan .


Yap Ah Loy
       Jalan jalan ketika itu keluar masuk Kuala lumpur belum ada , hanya melalaui jalan sungai dan jalan setapak melalui hutan mengikutti jejak orang ....Sedang kan rumah2 terdiri dari bertembok tanah liat beratap daun bertam atau rumbia ( sejenis palma yang tumbuh meliar di hutan atau pantai ) di Java Street dan Ampang Street sekarang . Sedangkan Jembatan di Java Street di perbuat dari pada buluh ( bambu )dan jembatan di pasar nya hanya dua batang kayu , dan setelah orang puteh ( Inggeris )masuk baru jembatan itu ditukar dengan papan dan lebih baik dari dulu .


       Pada suatu ketika Kuala lumpur telah terbakar habis jadi abu semua , kecuali rumah Kapitan Yap Ah Loy kerena rumah tsb jauh tiada dapat disambar api ... Setelah itu di ganti lagi dengan lebih banyak lagi rumah didirikan walaupun demikian masih mengunakan bahan2 yang sama , tak lama selepas itu air bah besar pula ,maka hanyut lah rumah2 itu dan musnah di bawa arus ...Dan habis didirikan lagi lebih banyak dari yang hanyut ......Tiada selepas itu terbakar pula diwaktu siang api yang berpunca kata orang dari rumah Hj Ali yang sedang memasak nasi minyak..setelah itu dibangun lagi lebih banyak lagi dan orang pun dah bertambah ramai .

       Pada masa Raja Mahmud Ibn Syultan Muhammad menjadi Penghulu Kuala Lumpur saya mendapat lagi sepucuk surat kebenaran membuka tanah kebun di Bukit  Nenas kemudian , setelah itu saya mendapat lagi sepucuk surat dari Tuan Maxwell dan Raja Laut yaitu membuka Sungai Putih ( Bangsar Road sekarang ).


bersambung; Kekayaan dan Pergaduhan Melayu .