Sabtu, 30 Julai 2011

MEDAN dan SUMATRA dalam sejarah.




  Pada zaman dahulu Kota Medan ini dikenal dengan nama Tanah Deli dan keadaan
  tanahnya berawa-rawa  , dan kurang lebih 4000 ha.
. Beberapa sungai melintasi Kota Medan ini dan semuanya bermuara ke Selat Malaka.
  Sungai-sungai itu adalah Sei Kera, Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Badra, Sei Putih ,                                                Sei Deli, Sei Babura, Sei Sik           
  Sei Belawan, Sei Denai, Sei Sulang Saling.
  Pada mulanya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru Patimpus lokasinya terletak
  di Tanah Deli,
  maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli).
  Setelah zaman kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap,
  sehingga akhirnya kurang popular.

  Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli Serdang) sampai
  ke Sungai Wampu di Langkat, sedangkan Kesultan Deli waktu itu daerah kekuasaan nya,
  tidak mencakupi diantara kedua sungai itu.
  Secara keseluruhan jenis tanah di daerah Deli adalah terdiri tanah liat dan berpasir,
  campuran hitam ,coklat,merah....

  Hal ini merupakan penelitian dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan
  oleh penelitian Vriens tahun 1910,
  bahwa disamping jenis tanah seperti tadi ada lagi ditemui jenis tanah liat yang spesifik. 
  Tanah liat inilah pada waktu penjajahan Belanda ditempat yang bernama Bakaran Batu,
  (sekarang Medan Tenggara atau Menteng) orang membakar batu bata yang berkwalitas tinggi,
  dan salah satu pabrik batu bata pada zaman itu adalah Deli Klei.

  Mengenai curah hujan di Tanah Deli digolongkan dua macam yakni : Maksima Utama dan
  Maksima Tambahan. Maksima Utama terjadi pada bulan-bulan Oktober s/d bulan
  Desember sedang Maksima Tambahan antara bulan Januari s/d September.
  Secara rinci curah hujan di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan intensitas rata-rata 4,4 mm/jam.

  Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba,
  dan disana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman
  penduduk yang berasal
  dari Karo dan semenanjung Malaya.
  Pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di
  Deli yang sempat menjadi primadona 
  Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang sehingga,
  Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara.
Istana Sultan Deli sekarang .






















  Pada awal perkembangannya merupakan sebuah kampung kecil bernama "Medan Putri". 
  Perkembangan Kampung "Medan Putri" tidak terlepas dari posisinya yang strategis, 
  karena terletak di pertemuan sungai Deli dan sungai Babura, 
  tidak jauh dari jalan Putri Hijau sekarang. Kedua sungai tersebut pada zaman
  dahulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai,
  sehingga dengan demikian Kampung "Medan Putri" yang merupakan cikal bakal Kota      
  Medan, cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting.

  Semakin lama semakin banyak orang berdatangan ke kampung ini dan
 isteri Guru Patimpus yang mendirikan kampung Medan melahirkan anaknya yang 
 pertama seorang laki-laki dan dinamai si Kolok. Mata pencarian orang di Kampung Medan
 yang mereka namai dengan si Sepuluh dua Kuta adalah bertani menanam lada. 
 Tidak lama kemudian lahirlah anak kedua Guru Patimpus dan 
 anak inipun laki-laki dinamai si Kecik.

 Pada zaman Guru Patimpus merupakan tergolong orang yang berfikiran maju.
 Hal ini terbukti dengan menyuruh anaknya berguru (menuntut ilmu) membaca
 Alqur’an kepada Datuk Kota Bangun dan kemudian memperdalam tentang agama Islam ke Aceh.

 Keterangan yang menguatkan bahwa adanya Kampung Medan ini
 adalah keterangan H. Muhammad Said yang mengutip melalui buku
 Deli In Woord en Beeld ditulis oleh N.Ten Cate. 
 Keterangan tersebut mengatakan bahwa dahulu kala Kampung Medan ini merupakan 
 Benteng dan sisanya masih ada terdiri dari dinding dua lapis berbentuk bundaran,
 yang terdapat dipertemuan antara dua sungai yakni Sungai Deli dan sungai Babura.
 Rumah Administrateur terletak diseberang sungai dari kampung Medan. 
 Kalau kita lihat bahwa letak dari Kampung Medan ini adalah di Wisma Benteng,
 sekarang dan rumah Administrateur tersebut adalah 
 kantor PTP IX Tembakau Deli sekarang ini.
 

 Sekitar tahun 1612 setelah dua dasa warsa berdiri Kampung Medan,
 Sultan Iskandar Muda yang berkuasa di Aceh mengirim Panglimanya
 bernama Gocah Pahlawan yang bergelar Laksamana Kuda Bintan untuk
 menjadi pemimpin yang mewakili kerajaan Aceh di Tanah Deli.
 Gocah Pahlawan membuka negeri baru di Sungai Lalang, 
 Percut. Selaku Wali dan Wakil Sultan Aceh serta dengan memanfaatkan kebesaran  Aceh,
 Gocah Pahlawan berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga meliputi
 Percut Sei Tuan dan Kecamatan Medan Deli sekarang.
 Dia juga mendirikan kampung-kampung Gunung Klarus, Sampali, Kota Bangun,
 Pulau Brayan, Kota Jawa, Kota Rengas Percut dan Sigara-gara.

Di belakang Istana  Sultan Deli th 1890.

















 Dengan tampilnya Gocah pahlawan mulailah berkembang 
 Kerajaan Deli dan tahun 1632 Gocah Pahlawan kimpoi dengan putri Datuk Sunggal.
 Setelah terjadi perkimpoian ini raja-raja di Kampung Medan menyerah pada Gocah Pahlawan.

 Gocah Pahlawan wafat pada tahun 1653 dan digantikan oleh puteranya 
 Tuangku Panglima Perunggit, yang kemudian memproklamirkan kemerdekaan
 Kesultanan Deli dari Kesultanan Aceh pada tahun 1669, dengan ibukotanya di Labuhan,
 kira-kira 20 km dari Medan.

 Jhon Anderson seorang Inggris melakukan kunjungan ke Kampung Medan tahun 1823
 dan mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera bahwa penduduk  
 Kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang tapi dia hanya melihat 
 penduduk yang berdiam dipertemuan antara dua sungai tersebut. Anderson menyebutkan 
 dalam bukunya “Mission to the East Coast of Sumatera“ (terbitan Edinburg 1826) bahwa 
 sepanjang sungai Deli hingga ke dinding tembok mesjid Kampung Medan di bangun 
 dengan batu-batu granit berbentuk bujur sangkar. Batu-batu ini diambil 
 dari sebuah Candi Hindu Kuno di Jawa.

 Pesatnya perkembangan Kampung "Medan Putri", juga tidak terlepas dari
 perkebunan tembakau yang sangat terkenal dengan tembakau Delinya, 
 yang merupakan tembakau terbaik untuk pembungkus cerutu. Pada tahun 1863, 
 Sultan Deli memberikan kepada Nienhuys Van der Falk dan Elliot dari 
 Firma Van Keeuwen en Mainz & Co, tanah seluas 4.000 bahu (1 bahu = 0,74 ha) 
 secara erfpacht 20 tahun di Tanjung Sepassi, dekat Labuhan. 
 Contoh tembakau deli. Maret 1864, contoh hasil panen dikirim ke Rotterdam di Belanda, 
 untuk diuji kualitasnya. Ternyata daun tembakau tersebut sangat baik dan 
 berkualitas tinggi untuk pembungkus cerutu.

 Kemudian di tahun 1866, Jannsen, P.W. Clemen, Cremer dan Nienhuys 
 mendirikan de Deli Maatscapij di Labuhan. Kemudian melakukan ekspansi  
 perkebunan baru di daerah Martubung, Sunggal (1869), 
 Sungai Beras dan Klumpang (1875), sehingga jumlahnya 
 mencapai 22 perusahaan perkebunan pada tahun 1874. 
 Mengingat kegiatan perdagangan tembakau yang sudah sangat luas dan berkembang, 
 Nienhuys memindahkan kantor perusahaannya dari Labuhan ke Kampung "Medan Putri". 
 Dengan demikian "Kampung Medan Putri" menjadi semakin ramai dan selanjutnya 
 berkembang dengan nama yang lebih dikenal sebagai "Kota Medan".


 Menurut legenda di zaman dahulu kala pernah hidup di Kesultanan Deli 
 lama kira-kira 10 Km dari Kampung Medan yakni di Deli Tua sekarang s
 seorang Putri yang sangat cantik dan karena kecantikannya diberi nama 
 Putri Hijau. Kecantikan Putri ini tersohor kemana-mana mulai dari 
 Aceh sampai ke ujung Utara Pulau Jawa.

 Sultan Aceh jatuh cinta pada Putri itu dan melamarnya untuk dijadikan permaisurinya. 
 Lamaran Sultan Aceh itu ditolak oleh saudara kedua laki-laki Putri Hijau. 
 Sultan aceh sangat marah karena penolakan itu dianggapnya sebagai penghinaan.
 Maka pecahlah perang antara Kesultanan Aceh dengan Kesultanan Deli.

 Menurut legenda yang tersebut diatas, 
 dengan menggunakan kekuatan gaib seorang dari saudara 
 Putri hijau menjelma menjadi seekor ular naga dan seorang lagi 
 menjadi sepucuk meriam yang tidak henti-hentinya menembaki tentara Aceh 
 hingga akhir hayatnya.

 KesultananDeli lama mengalami kekalahan dalam peperangan itu 
 dan karena kecewa Putra Mahkota yang menjelma menjadi meriam itu 
 meledak sebagian, bagian belakangnya terlontar ke Labuhan Deli 
 dan bagian depannya kedataran tinggi Karo kira-kira 5 Km dari Kabanjahe.

 Putri Hijau ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat 
 kedalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di 
 Ujung Jambo Aye, Putri Hijau mohon diadakan satu upacara untuknya 
 sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, 
 harus diserahkan padanya sejumlah beras dan beribu-ribu telur 
 dan permohonan tuan Putri dikabulkan. 
 Tetapi baru saja uapacara dimulai tiba-tiba berhembuslah angin ribut yang 
 maha dahsyat disusul gelombang-gelombang yang sangat tinggi.

 Dari dalam laut muncullah abangnya yang telah menjelma menjadi 
 ular naga itu dan dengan menggunakan rahangnya yang besar itu diambilnya 
 peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam laut.
 Legenda ini samapai sekarang masih terkenal di kalangan masyarakat Deli 
 dan malahan juga dalam masyarakat Melayu di Malaysia.

 Di Deli Tua masih terdapat reruntuhan Benteng dan Puri yang berasal dari 
 zaman Putri Hijau, sedang sisa meriam penjelmaan abang Putri Hijau itu 
 dapat dilihat di halaman Istana Maimun Medan.

 Belanda yang menjajah Nusantara kurang lebih setengah abad namun untuk 
 menguasai Tanah Deli mereka sangat banyak mengalami tantangan yang tidak sedikit. 
 Mereka mengalami perang di Jawa dengan pangeran Diponegoro sekitar tahun 1825-1830. 
 Belanda sangat banyak mengalami kerugian sedangkan untuk menguasai Sumatera, 
 Belanda juga berperang melawan Aceh, Minangkabau, 
 dan Sisingamangaraja di daerah Tapanuli.

 Jadi untuk menguasai Tanah Deli Belanda hanya kurang lebih 78 tahun 
 mulai dari tahun 1864 sampai 1942. 
 Setelah perang Jawa berakhir barulah Gubernur Jenderal Belanda J.Van den Bosch 
 mengerahkan pasukannya ke Sumatera dan dia memperkirakan untuk 
 menguasai Sumatera secara keseluruhan diperlukan waktu 25 tahun. 
 Penaklukan Belanda atas Sumatera ini terhenti ditengah jalan karena 
 Menteri Jajahan Belanda waktu itu J.C.Baud menyuruh mundur pasukan  
 Belanda di Sumatera walaupun mereka telah mengalahkan 
 Minangkabau yang dikenal dengan nama perang Paderi ( 1821-1837 ).

 Sultan Ismail yang berkuasa di Riau secara tiba-tiba diserang oleh 
 gerombolan Inggeris dengan pimpinannya bernama Adam Wilson. 
 Berhubung pada waktu itu kekuatannya terbatas maka 
 Sultan Ismail meminta perlindungan pada Belanda. 
 Sejak saat itu terbukalah kesempatan bagi Belanda untuk menguasai 
 Kerajaan Siak Sri Indrapura yang rajanya adalah Sultan Ismail. 
 Pada tanggal 1 Februari 1858 Belanda mendesak Sultan Ismail untuk 
 menandatangani perjanjian agar daerah taklukan kerajaan 
 Siak Sri Indrapura termasuk Deli, Langkat dan Serdang di Sumatera Timur 
 masuk kekuasaan Belanda. 
 Karena daerah Deli telah masuk kekuasaan Belanda otomatislah 
 Kampung Medan menjadi jajahan Belanda, 
 tapi kehadiran Belanda belum secara fisik menguasai Tanah Deli.

 Pada tahun 1858 juga Elisa Netscher diangkat menjadi 
 Residen Wilayah Riau dan sejak itu pula dia mengangkat dirinya 
 menjadi pembela Sultan Ismail yang berkuasa di kerajaan Siak. 
 Tujuan Netscher itu adalah dengan duduknya dia sebagai pembela 
 Sultan Ismail secara politis tentunya akan mudah bagi Netscher menguasai 
 daerah taklukan kerajaan Siak yakni 
 Deli yang di dalamnya termasuk Kampung Medan Putri.

  Perkembangan Medan Putri menjadi pusat perdagangan telah 
  mendorongnya menjadi pusat pemerintahan. Tahun 1879, 
  Ibukota Asisten Residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan, 
 1 Maret 1887,Ibukota Residen Sumatera Timur 
  dipindahkan pula dari Bengkalis ke Medan, 
  Istana Kesultanan Deli yang semula berada di Kampung Bahari (Labuhan) 
  juga pindah dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada tanggal 18 Mei 1891, 
  dan dengan demikian Ibukota Deli telah resmi pindah ke Medan.


 Pada tahun 1915 Residensi Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya 
 menjadi Gubernemen. Pada tahun 1918 Kota Medan resmi menjadi 
 Gemeente (Kota Praja) dengan Walikota Baron Daniel Mac Kay. 
 Berdasarkan "Acte van Schenking" (Akte Hibah) Nomor 97 Notaris J.M. de-Hondt Junior, 
 tanggal 30 Nopember 1918, 
 Sultan Deli menyerahkan tanah kota Medan kepada Gemeente Medan, 
 sehingga resmi menjadi wilayah di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda. 
 Pada masa awal Kotapraja ini, Medan masih terdiri dari 4 kampung, 
 yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas, 
 Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir.

 Pada tahun 1918 penduduk Medan tercatat sebanyak 43.826 jiwa yang terdiri 
 dari Eropa 409 orang, Indonesia 35.009 orang, Cina 8.269 orang 
  dan Timur Asing lainnya 139 orang.

 Sejak itu Kota Medan berkembang semakin pesat. Berbagai fasilitas dibangun. 
 Beberapa diantaranya adalah Kantor Stasiun Percobaan AVROS di Kampung Baru (1919), 
 sekarang RISPA, hubungan Kereta Api Pangkalan Brandan - Besitang (1919),  
 Konsulat Amerika (1919), Sekolah Guru Indonesia di Jl. H.M. Yamin sekarang (1923), 
 Mingguan Soematra (1924), Perkumpulan Renang Medan (1924), 
 Pusat Pasar, R.S. Elizabeth, Klinik Sakit Mata dan Lapangan Olah Raga Kebun Bunga (1929).

 Secara historis perkembangan Kota Medan, 
 sejak awal telah memposisikan menjadi pusat perdagangan (ekspor-impor) sejak masa lalu. 
 sedang dijadikannya medan sebagai ibukota deli juga telah menjadikannya 
 Kota Medan berkembang menjadi pusat pemerintah. sampai saat ini disamping 
 merupakan salah satu daerah kota, juga sekaligus sebagai ibukota Propinsi Sumatera Utara.

Isnin, 4 Julai 2011

Kuala lumpur ..1850--1930. Hj Abdullah Hukum ...11.

Bugis di Rekoh Alah.


Kebetulan sa'at itu Bugis Di Rekoh sedang ber siap2 melanggar Raja Mahmud. Kawan nya ialah orang Tembusai, orang Kampar, dan juga orang Kerinci. Rahasia ini antara Raja Mahmud dengan orang Kerinci, yang telah di sapakati disimpan baik2 sehingga tiada ada seorang pun yang tahu .

gambar hiasan.
Pada ke esok hari nya kira2 pukul tujuh pagi sampai lah sekelian pada suatu tempat berhadapan dengan kubu Raja Mahmud, maka masng2 membuat kubu secara berasingan orang Kerinci satu , orang Tambusai dan Kampar , serta orang Bugis sebuah ...
Orang Kerinci Mendiri kan kubu menghadap matahari terbit karena menurut perjanjian yang telah disepakati dengan Raja Mahmud, dan tembakkan orang Kerinci tiada berpeluru. Tidak lama sejurus kemudian maka orang Kerinci mulaikan menembak ke arah kubu Raja Mahmud dengan tiada berpeluru .
Dengan demikian di tengok oleh Raja Mahmud tembakan tiada berpeluru, maka paham lah beliau akan isyarat itu dan dia pun keluarlah dengan serta merta menyerang kearah matahari terbenam saja. Kebetulan pula orang dalam kubu orang Bugis maupun orang Kampar dan Tambusai, belum bersiap sedia apa lagi dengan demikian tiada ada perlawanan yang sengit terjadi denga mudah Raja Mahmud Mengalahkannya , panglima2 lawan terkorban sebanyak enam otang dan banyak yang luka2 mana kala pihak Raja Mahmud seorang nya tiada yang mati. Sementara itu dipihak orang Bugis dan sekutu nya ber taburan melarikan diri kedalam hutan dan setengah nya lari masuk perahu.

Kata Tuan Hj Abdullah Hukum..... inilah penghabisan pergaduhan sebelah darat Selangor, kerana Bugis dah lari maka negeri pun aman. Saya pun duduk ( tinggal ) di Semenyeh ber niaga kain selama dua tahun. Ada pun Semenyeh di bawah kekuasaan Raja Husin peranakan raja Sungai Ujung ( Seremban Negeri Sembilan ).
Hulu Langat, Kajang dan Rekoh masa itu bibawah di bawah perintah Raja Kahar Ibn Syultan Abdul Samad. Tengku itu jua jadi majestritnya masa itudan Tengku yang menjatuhkan kepada Orang Minangkabau ,seperti Panglima Muda, Raja Khatib, GintiAli dan juru tulis supaya memulangkan harta2 orang orang Mahdailing yang dirampas dulu dipulangkan kepada Raja Yusuf dan Fatimah cucu dari pada Datuk Penghulu Langat....Dan saya tinggalah di Langat membuka sawah selama dua tahun.

Dalam masa itu saya tinggal diHulu Langat mula2 memandang wajah Tuanku Syultan Abdul Samad, yaitu masa Tuanku Syultan berangkat karena suatu lawatan melihat persawahan di sana dan Tuanku sendiri yang mengatur sawah2 disitu . Kedatangan Tuanku itu dari Kuala Lumpur dengan jalan sungai dengan bertandu, banginda di iringi banyak hulubalang serta dayang2
Kemudian dari pada itu saya pun berpindah ke Kuala lumpur menuju rumah Raja Bot dan Raja Syam. Ketika itu perang telah berhenti selama tiga puluh tahun .


bersambung; orang melayu berkebun di Kuala Lumpur.

Kuala lumpur 1850 - 1930 Hj Abdullah Hukum ...13.

Kekayaan dan Pergaduhan Melayu.




Semakin lama semakin ramai orang di Kuala Lumpur , perniagaan pun di kuasai orang Melayu rumah rumah kedai ( ruko ) dipunyai orang Melayu ...Adapun orang orang kaya pada masa itu yang terbanyak ialah orang Minangkabau, seperti ; Hj Abdul Samad , Hj Abdul Malik Panjang , Hj Abdul Samad Panjang , Hj Abdul Samad Kecil , Hj Muhammad Ali , Hj Osman ( Imam dan Kemudian jadi Khadi Kuala Lumpur ) ,Hj Zainal Abidin , Hjh  Fatimah , Hj Abdulah Panjang Hasyim , Banginda Kaya Hj Arsyad , Datuk Maha Raja ..

     Dari pada orang Mandailing Sultan Puasa , dari orang Kerinci Hj Asyad , dari orang Melaka Datuk Abdullah  ,dari Pulau Pinang Che Din , Encek Baki Melaka mertua saya ( Hj Abdullah Hukum ), orang Acheh Hj Saleh dan ada orang Linggi dan orang Terangganu  Che Soh.

     Adapun mesjid yang pertama di dirikan oleh mertua saya di Melaka ( Batu Lane sekarang )dan mesjid itu dinamakan mesjid Melaka ( sekarang dinama kan mesjid Keling atau Chulia ).

Mesjid di diri kan atas pakatan orang Melaka dan orang Melaka jua tukangnya serta segala pegawai nya , dalam pada itu orang Minangkabau telah mendiri kan mesjid lain yang kebetulan tentang gedung Gian Singh di Java Street sekarang
......
Disebab kan mesjid ini lah orang Melayu mulai bersingit akhirnya berseteru sebab masing masing pihat hendak mendiri kan sembayang Jum'at , masing2 tak mau beralah dan hendak menang sendiri dan mengalah kan pihak lain .....

     Perseteruan itu makin merebah hampir membangkitkan perkelahian besar .
Mujurlah kerajaan campur tangan yaitu neneknda Syultan sekarang Yang mulia Tuanku Syultan Abdul Samad Alam Shah yang sedang melawat Kuala lumpur dengan jalan sungai  dan kereta nya serta alat kebesaran lain.
Bangida telah memandamkan perseteuan itu dengan titah sembayang Jum'at secara ber gilir2 diantara dua buah mesjid itu , keputusan itu disambut orang ramai dengan suka cita nya oleh yang demikian itu api prseteruan pun padam lah

     Dengan rasa terima kasih orang ramai , setelah Yang Mulia Syultan balik ke Kelang .....Maka orang ramai datang menghadap di Kelang dengan membawa persembahan  seperti , Hj Baki seekor kuda putih dan yang lain masing2 seekor kerbau setiap seorang , yang pergi Datuk Sati Penghulu Setapak , Mat Saman Penghulu Batu , Hj Kecil Penghulu Petaling , Raja Mas Penghulu Hulu Kelang , Imam Muhammad Penghulu Ampang ,dan saya Hj Abdullah Hukum .

Dan masa itu saya berkekalan duduk ( tinggal ) di Sungai Puteh dan hutan bukit Changi Putri saya lah kepalanya membukanya dengan ramai orang2 kerinci lain nya , adayang duduk disitu sampai masa ini .
Mula tempoh pemerintah Tuan Simmon sayalah yang menunjukan tempat itu. Dan masa itu Penghulunya Enchik Ahmad bin Datuk Panglima Garang  ( sekarang Chief Penghulu Kuala Lumpur )......

     Dalam tempoh berlalu , suatu masa .....suatu keramaian besar yang belum pernah diadakan di Selangor yaitu pertabalan Syultan Selangor pada tahun 1898 yang di adakan di Kelang , bandar ini mejadi sesak sana sini orang mengada kan persembahan  persembahan di mana2 merata tempat .
Yang saya tahu Raja Laut dengan Che Soh orang Terengganu itu menhantar seekor kerbau dan Panglima Kiri dari Kuala Kubu seekor rusa .

Yang orang Kerinci saya lah kepalanya menghantar seekor kerbau ,orang Kerinci yang datang itu semua haji dan memakai jubah , tetapi sampai di Kampung Kuantan Kelang orang 2 saya engan menghadap , yang kata mereka tiada tahu adat cara menghadap takut2 kalau salah adad .
      Oleh kerena itu saya minta orang Kelang Pandu kami untuk menghadap dan persembahan kami , selamat di persembahkan . Dan apa bila balik dari Kelang Raja Mahmud membari sepucuk surat kepada saya , ucapan terima kasih dari Syultan yang sampai sa'at ini masih saya simpan ( 1935 )....



bersambung; Syultan melantik orang besar .

Kuala lumpur 1850 - 1930 Hj Abdullah Hukum ...14

  1. Melantik  Orang Besar.




Kata Tuan Hj Abdullah Hukum ......Waktu almarhum Syultan Abdul Samad  melawat Kuala lumpur dulu nya masa menyelesaikn sengketa dan memadamkan perseteruan orang Melayu yang di sebab masalah sembayang  Jum'at diantara dua buah mesjid ,yang keputusan didirikan sembayang secara ber gilir2 mesjid   
         
     Pada masa itu yang jadi tuan Residen nya yaitu Tuan Rodger.....Sautu keramaian besar besaran telah diadakan  kerena melantik orang besar ...Keramai itu di adakan di bukit Nenas, dan itulah suatu keramaian 


yang jolong kali di adakan di Kuala Lumpur serta keramaian itu diadakan selama tujuh hari tujuh malam , dan mengikut cara keramaian orang zaman dahulu gelanggang judi pun ada , sabung ayam , gelanggang pencak silat  berbagai rupa dan gaya nya serta ber puluh2 ekor kerbau di tumbangkan di hadapan orang yang dilantik serta Tuanku Syultan .... Ada pun orang yang dilantik.



1 . TOK SETAPAK 

2.  TOK  BELA  SUNGAI CANTIK.

3 . TOK IMAM MUHAMMAD ARIF.

4.  RAJA  UTIH .

5.  TOK  DAGANG  DI ANJUK  HJ ABDULLAH  HUKUM .



                                                                                                                                 
     Orang ini untuk dikenal dan di ingati oleh kerajaan .

Bila diadakan keramaian di rumah orang2 besar , orang inilah yang kehadapan bersama sama orang yang lain memang orang besar negri , dan begitu pula pada masa keramaian yang dinama kan  ''Manjalang '' yang 


diadakan setahun sekali , pada masa Hari Raya baik dirumah Raja Muda ( Raja Laut ) di Kuala Lumpur mau pun di rumah Tuan besar ............Tetapi sekarang malang nya semua orang2 itu telah meninggal dunia ke besaran nya ikut ter kubur , tinggal lah saya se orang  sekarang ........th 1935.  




bersambung. berdagang kerbau dibeli dari Pahang.

Kuala lumpur 1850 - 1930 Hj Abdullah Hukum ...15.

MEMBELI KERBAU KE PAHANG .


Dengan Demikian tamatlah kisah Kuala Lumpur......
     Sekarang yang kita rasa berguna untuk kita mengetahui riwayat hidup Tuan Hj Abdullah Hukum  pula .
Kata nya ..... Saya bermaksud hendak meluaskan mata pencarian  dan yang saya nampak adalah berniaga kerbau , karena orang di Kuala Lumpur  telah ramai dan harga daging mahal pula .
     Adapun kerbau yang banyak masa itu di Negeri Pahang ..... Saya bermufakat dengan kawan dua orang Kerinci lalu di ada kan perkongsian modal  denga lebih kurang 200 ringgit se orang .....
Apa bila azam telah ditetapkan kami bertawakal kepada Allah, lalu berjalan lah kami menuju Bentung ( lk 50 km dari Kuala lumpur sekarang ) dengan jalan masa itu hanya mengikuti jejak jalan orang pergi masuk hutan sahaja .... Kami pun dapat membeli delapan ekor sahaja dari kampong Liri Bentong ,dengan harga 20 ringgit se ekor adapun perjalan kami masa itu selama tiga hari .....
     Kerbau kerbau itu kami bawa balik ke Kuala Lumpur dan dengan mujurnya kami dapat men jual dengan harga 40 ringgit se ekor maka dapatlah kami untung nya ...
Kali kedua kami pun pergi lagi agak jauh tempat nya sehingga sampai ke Lubok Terua (Semantan )dan dapat 15 ekor.......dan disana saya melihat orang berkelahi dengan bertikam tikam satu sama lain sama sama orang Pahang .    Sebab nya kata kata orang yang seorang enggan memulangkan amanah yang di bawa nya dari Kuala Lumpur. kesudahan nya orang yang enggan memulangkan itu mati dalan pergaduhan itu.
     Setelah membeli kerbau itu ,saya pun teringat hendak balik lekas melihat anak anak saya yang masih kecil kecil yang telah lama saya tinggalkan , jika saya balik membawa kerbau tersebut niscaya lambat lah saya sampai ...Oleh yang demikian saya upah orang untuk membawanya kerbau itu kepada orang Pahang  dengan dua ringgit se ekor kerbau , maka saya pun balik dahulu.untuk menemui anak bini.
Sayapun sampai lah di rumah didapati anak anak saya Al hamdulillah dalam peliharaan Allah ,tiga hari setelah itu saya pun berangkat hendak menyosong orang yang membawa kerbau yang saya upahkan itu .


bersambung; bunyi detuman meriam.

Kuala lumpur 1850 - 1930 Hj Abdullah Hukum ..22

         Ziarah  Kubur........Pengalaman semasa di dusun .

Tuan Hj Abdullah Hukum
Dua hari di belakang saya pun ziarah ke kubur ayahnda tercinta  di Gunung Kelikir , kira2 setengah km dari dusun saya Sungai Abu , yaitu suatu tempat yang tinggi dan mendaki kesana .

Sebagai kenangan saya menukar batu nesan kaburan orang tua saya dengan yang baru .

    Kemudian saya melawat pula jiran dusun saya yang namanya dusun Koto Tebat di mana disana ada suatu makam yang dipuja orang , yang kata nya keramat besar disana .

Rupanya saya di izin kan masuk ke dalam kawasan perkuburan itu , saya dapati  didalam nya penuh dengan panji-panji ada yang kuning , yang hitam ,ada puteh bergayutan sana sini.

Saya di pandu orang disitu ke tempat batu besar yang mana konon nya ada kesan tangan keramat , dan ramai orang disitu memintak pertolongan yang katanya ada  jin  disitu..

   Oleh kerena  pada pengajian saya perbuatan yang demikian karut boleh membawa kepada syirik.......

Entah kerena tiada serupa apa yang saya belajar dengan perbuatan orang disana , saya terlanjur menista  ketua-ketua  kampung disana  sayakan bodoh dengan kerja seperti ini dan banyak lagi yang saya katakan pada mereka, berani  sayakan kerena disana orang bawah dari saya dan memang patut saya nasehat kan ,dan lagi saya di gelar Rio Jayo Galang Negeri oleh suku dalam kelompok di dusun Sungai Abu...
Setelah katakan itu sehingga orang disana menesehati saya jangan takbur kepada keramat disana , ditakuti  mendapat bencana atau sakit dll.

    Mendengar yang demikian itu apa lagi bertambah marahnya saya lalu saya menepuk dada dan berkata  jika betul ada jin  yang tuan - tuan sembah itu  mari lah makan saya ini .....saya katakan ......tiada yang patut di sembah selain dari pada Allah .swt. ...

    Dan malam itu juga saya pergi lagi saya guling kan batu itu serta campakan dari situ dan persiapan-persiapan segala macam alat persembahan di situ saya buang kesemua nya.....

Akhirnya saya memberi nasehat panjang lebar dengan orang disitu , agar menjauhi dari perkara -perkara yang membawa kesesatan......Saya rasa sampai sekarang tiada apa yang mendatangkan bencana kepada saya .
Saya hanya duduk ( tinggal ) di kampung saya selama enam hari lima malam saja .....dan kami pun bertolak balik dengan motorcar ( sedan Dodge ) saya itu , se sampai nya di Belawan kami tergendala mengambil wang  dhaman ( deposit ) ketika masuk dulu .

    Jumlah minyak yang kami pakai untuk pergi balik kira-kira 230 galon ( x3,75 L ) dan jauh nya dulu 2060 km , dan inilah kali pertama saya ziarah ke kampung mungkin juga kali ter akhirnya...
Semenjak itu saya bekekalan  tinggal di kampung saya ini Bangsar Road  hingga hari ini......


Demikian lah tamat riwayat Kuala Lumpur dan Hj Abdullah Hukum yang menempuh banyak suka dan duka serta ber bagai-bagai di dalam kehidupan nya......dari usia 15 tahun pada th 1850 hingga sekarang th 1935 dan itu hasil temu bual  Wartawan Warta Ahad  dalam bahasa Melayu tulisan Arab.

photo tahun 18-3- 1935



Inilah gambar keluarga besar,
Tuan Hj Abdullah Hukum .
Anak lelaki  dan Perempuan  sebanyak 18 orang.
cucu baru 53 orang , cicit 17 orang. di th 1935.
dan sekarang keturunan nya hampir 2000 orang.
di tahun 2011.

Sabtu, 2 Julai 2011

Kuala lumpur .1850--1930. Hj Abdullah Hukum. .21.

PULANG  KE  KERINCI.

Kira kira lebih kurang delapan tahun kemudian saya pun penat rasa nya  menjadi ketua itu , sebab badan saya telah berumur dan umur saya sudah lebih 70 tahun ketika itu .

Maka pada 13 Januari 1912 saya pun menghantar surat kepada Tuan Collector menyerahkan pangkat sebagai ketua kampung , lalu diterima nya dan semenjak itu tiada lah saya ketua lagi

   Kemudian atas sokongan di antara Tuan Creason atau Tuan Boyd , maka pada 1Ogos 1922 saya di kurnia pencen ( pensiun ) yang saya terima sehingga sekarang ini.
 
   Semenjak saya meninggal kan kampung halaman saya di Sungai Abu Kerinci Sumatra ,tiada saya pernah balik ziarah ke Sumatra melain kan pada tahun 1929 pada masa itu saya sudah tinggalkan lebih kurang 79 tahun , kerena pernah suatu ketika dulu ber bangkit keinginan saya yang amat sangat rindu kan kampung tempat tanah tumpah darah .

   Maka saya pun berkira dengn anak cucu saya , yang saya kebetulan ada mempunyai motorcar jenis Dodge.

Oleh karena perjalanan saya itu melebihi beribu batu ,saya tetapkan motorcar saya lebih senang berjalan dari satu tempat ke satu tempat . Saya bertolak dari rumah pada bulan Desember 1929 . menuju Belawan  di kerajaan Deli Sumatra  bagian utara berserta dengan istri saya ,seorang budak ,cucu saya ,dan orang anak saya yaitu ; Mahmud dan Hj Abdul Samad ke dua2 anak saya ini adalah sebagai pemandu motor car .

  Dari Belawan kami mulailah pakai kenderaan sendiri melalui Medan , Tebing Tinggi dan ber malam di pekan yang bernama Pematang Siantar .  Besok pagi nya setalah  minum pagi kami terus kan perjalanan kami kira2 pukul 2 petang sampai kami di Kota Nopan ( Madahiling ) juga bermalam di situ .

Pada esok pagi nya seperti biasa setelah minum pagi kami teruskan perjalanan kami ke Rawa Rawa Kemanga ( Rao Minangkabau ).kami singgah di rumah Tuan Hj Abdul Samad ayahnda Almarhum Tuan Hj Muhammad Taib J.P ( Jaksa Pendamai )...

dodge
   Di situ kami bertemu dengan Tuan Hj Muahyudin , yaitu menantu Tuan Hj Muhammad Taib JP.( sekarang tinggal di Pudu Road Kuala Lumpur )...besok nya kami berangkat ke Padang tiba disitu  pukul 2 petang dan juga bermalam disitu

..Pagi besok nya kami bertolak sampai pula di Batang Kapas pukul 2petang kami tidak bermalam disitu , perjalanan kami teruskan sampai di Air Haji pukul  1 tengah malam maka terpaksa pula bermalam perjalanan tidak dapat di terus kan kerena air bah ( banjir ) pada masa itu.

Pada esok nya dengan tiada bertangguh lagi kami pun teruskan perjalanan kami sehingga sampai di Tapan .
   Apa bila sampai di Tapan saya merasa se olah olah sudah berada di negeri saya , kerena perjalanan itu hanya tinggal tiga empat jam lagi oleh kerena jalan ke Kerinci kecil tiada dapat berselisih jalan dengan motor car dari arah Kerinci , maka kami menunggu motor car ( mobil sedan ) dari  Kerinci habis turun baru lah nanti nya baru kenderaan kami boleh jalan ... Oleh menunggu itu agak lama dan kebetulan pula masa itu hari Pakan
atau hari balai ( lambah Malaysia ). maka kami pun ber jalan2 melihat nya ... Saya dapati semua manusia

disitu Melayu dari berbagai suku bangsa , dan disitulah saya melihat segala nya orang Melayu , yang ber niaga nya , yang membeli nya , tukang besi nya , tukang kayu nya ,tukang tembaganya , tukang pangkas ( cukur ),tukang emasnya , semua Melayu belaka serba serbi nya orang Melayu tenunan kain nya , jual itik ,ayam , kambing, kerbau , sapi ,...bukan main senangnya saya melihat yang demikian itu , sampai bau nya pun bau Melayu .

   Kira kira Tengah hari motor car ( Mobil Sedan ) dari Kerinci pun sampai dan diberitau tiada lagi kenderaan  yang datang dari Kerinci , maka kami pun naik lah menuju Kerinci dan sampai di dusun Sungai Abu tempat saya dilahirkan lk 80 tahun dulu lalu saya naik kerumah yang telah lama saya tinggalkan . .. Dengan linangan air mata Tuan Hj Abdullah Hukum menceritakan ......dan katanya lagi ....tidak dapat saya katakan betapa sayu nya dikala itu, dan tergambar2 masa  kecil dulu di halaman rumah ada talaga kecil tempat kami ber main2 dengan rakan  80 tahun dulu , dan semasa itu kawan pun banyak yang telah tiada , jangan kan yang tua yang dibawah saya banyak telah berpindah ke alam baka , yang ada anak cucu nya kaum kerabat dan kawan2 yang tinggal .



bersambung;; bagian akhirnya riwayat  kuala lumpur , hj abdullah hukum.

dipetik; dari hasil temu bual wartawan warta ahad  pada th 1935.dgn tuan hj.abdullah hukum.