Jumaat, 1 Julai 2011

Kuala lumpur .1850--1930. Hj Abdullah Hukum. ..12.

Orang Melayu Berkebun.


Tuan Hj Abdullah Hukum
Apa kala aman telah tersiar di Kuala Lumpur maka orang Melayu, dari segala suku bangsa dari Sumatra ramai yang datang , dan membuka tanah kebun serta membuat kampung ... Seperti orang Minangkabau , Kerinci, Mahdailing, Bangkahulu, Kampar , Tambusai , dan dari tempat lain seperti Bugis dari Celebes ( Sulawesi Selatan )dll.

    Di antara tanaman yang disukai masa itu ialah kopi dan lada hitam , oramg mulai berladang di Setapak , Hulu Gombak , Batu , Pudu , Petaling , serta tempat lain nya di sekitar Kuala Lumpur, dan saya pun kata Tuan Hj Abdullah Hukum; pada suatu hari  pergi menghadap Raja Laut di rumah nya kebetulan rumah nya di hadapan sekolah Melayu Gombak Lane ( dahulu namanya Kuala Gombak )..Adapun Raja Laut ialah putra Syultan Muhammad yang jadi Raja muda Selangor waktu itu.


     Kedatangan saya menghadap itu yaitui kerena mau memintak tanah, mujur bagi saya permintaan saya dilulus kan dan di bagi sepucuk surat kebenaran , serta sepucuk surat lagi pengangkatan saya sebagai Ketua dengan gelaran Penghulu Mesjid.   Oleh yang demikian ramai lah orang kita Kerinci mengikut saya dan tinggal Pudu yaitu dinama kan Bukit Bintang Sekarang .

meneroka tanah baru
     Duduklah ( tinggalah ) kami disitu dengan aman, bertanam sayur , tebu, pisang, dan sireh serta pokok yang cepat berbuah . Sedang kan ditempat lain banyak orang membuka sawah ...di Pudu saya lebih kurang enam tahun ke tujuh tahun .

     Di antara ber bagai perkerjaan yang saya teiah saya lakukan dan juga jadi nahkoda ,mengambil upah atau tambang membawa beras dari Kelang ke Kuala Lumpur dengan perahu , dengan upah sekoyan 40 ringgit ( 3 pikul = 3 x 62 kg takaran sekarang ), perahu saya buatan orang Linggi ( Negri Sembilan sekarang ) sedangkan pelayaran saya dari Kelang ke Kuala Lumpur selama 10 atau 15 hari dgn bergalah menyusuri sungai Kelang , kalau dimusim hujan hanya 3 atau 4 hari saja


      Orang puteh waktu tak lah ramai hanya ada lima enam  orang , yang ramai orang puteh di Melaka .
Pada masa itu yaitu Tuan Douglas , Tuan Sawyer dll , yang jadi kepala mata mata ( polis = polisi ) waktu itu ialah Sarjan Mejar ( sersan mayor ) Ahmad dan Sarjan Long orang dari Melaka ... Saya mula mula berjumpa orang ini di rumah Kapitan Yap Ah Loy ( yang orang angap dia orang pertama mendiri kan Kuala lumpur )untuk mendengar bicara ( sidang ) beberapa orang tertuduh mencuri padi , kerena saya sebagai Penghulu wal hasil nya bicara bi buang kerena tiada cukup bukti dan keterangan .


Yap Ah Loy
       Jalan jalan ketika itu keluar masuk Kuala lumpur belum ada , hanya melalaui jalan sungai dan jalan setapak melalui hutan mengikutti jejak orang ....Sedang kan rumah2 terdiri dari bertembok tanah liat beratap daun bertam atau rumbia ( sejenis palma yang tumbuh meliar di hutan atau pantai ) di Java Street dan Ampang Street sekarang . Sedangkan Jembatan di Java Street di perbuat dari pada buluh ( bambu )dan jembatan di pasar nya hanya dua batang kayu , dan setelah orang puteh ( Inggeris )masuk baru jembatan itu ditukar dengan papan dan lebih baik dari dulu .


       Pada suatu ketika Kuala lumpur telah terbakar habis jadi abu semua , kecuali rumah Kapitan Yap Ah Loy kerena rumah tsb jauh tiada dapat disambar api ... Setelah itu di ganti lagi dengan lebih banyak lagi rumah didirikan walaupun demikian masih mengunakan bahan2 yang sama , tak lama selepas itu air bah besar pula ,maka hanyut lah rumah2 itu dan musnah di bawa arus ...Dan habis didirikan lagi lebih banyak dari yang hanyut ......Tiada selepas itu terbakar pula diwaktu siang api yang berpunca kata orang dari rumah Hj Ali yang sedang memasak nasi minyak..setelah itu dibangun lagi lebih banyak lagi dan orang pun dah bertambah ramai .

       Pada masa Raja Mahmud Ibn Syultan Muhammad menjadi Penghulu Kuala Lumpur saya mendapat lagi sepucuk surat kebenaran membuka tanah kebun di Bukit  Nenas kemudian , setelah itu saya mendapat lagi sepucuk surat dari Tuan Maxwell dan Raja Laut yaitu membuka Sungai Putih ( Bangsar Road sekarang ).


bersambung; Kekayaan dan Pergaduhan Melayu .

Tiada ulasan:

Catat Ulasan