Sabtu, 30 Julai 2011

MEDAN dan SUMATRA dalam sejarah.




  Pada zaman dahulu Kota Medan ini dikenal dengan nama Tanah Deli dan keadaan
  tanahnya berawa-rawa  , dan kurang lebih 4000 ha.
. Beberapa sungai melintasi Kota Medan ini dan semuanya bermuara ke Selat Malaka.
  Sungai-sungai itu adalah Sei Kera, Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Badra, Sei Putih ,                                                Sei Deli, Sei Babura, Sei Sik           
  Sei Belawan, Sei Denai, Sei Sulang Saling.
  Pada mulanya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru Patimpus lokasinya terletak
  di Tanah Deli,
  maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli).
  Setelah zaman kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap,
  sehingga akhirnya kurang popular.

  Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli Serdang) sampai
  ke Sungai Wampu di Langkat, sedangkan Kesultan Deli waktu itu daerah kekuasaan nya,
  tidak mencakupi diantara kedua sungai itu.
  Secara keseluruhan jenis tanah di daerah Deli adalah terdiri tanah liat dan berpasir,
  campuran hitam ,coklat,merah....

  Hal ini merupakan penelitian dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan
  oleh penelitian Vriens tahun 1910,
  bahwa disamping jenis tanah seperti tadi ada lagi ditemui jenis tanah liat yang spesifik. 
  Tanah liat inilah pada waktu penjajahan Belanda ditempat yang bernama Bakaran Batu,
  (sekarang Medan Tenggara atau Menteng) orang membakar batu bata yang berkwalitas tinggi,
  dan salah satu pabrik batu bata pada zaman itu adalah Deli Klei.

  Mengenai curah hujan di Tanah Deli digolongkan dua macam yakni : Maksima Utama dan
  Maksima Tambahan. Maksima Utama terjadi pada bulan-bulan Oktober s/d bulan
  Desember sedang Maksima Tambahan antara bulan Januari s/d September.
  Secara rinci curah hujan di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan intensitas rata-rata 4,4 mm/jam.

  Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba,
  dan disana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman
  penduduk yang berasal
  dari Karo dan semenanjung Malaya.
  Pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di
  Deli yang sempat menjadi primadona 
  Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang sehingga,
  Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara.
Istana Sultan Deli sekarang .






















  Pada awal perkembangannya merupakan sebuah kampung kecil bernama "Medan Putri". 
  Perkembangan Kampung "Medan Putri" tidak terlepas dari posisinya yang strategis, 
  karena terletak di pertemuan sungai Deli dan sungai Babura, 
  tidak jauh dari jalan Putri Hijau sekarang. Kedua sungai tersebut pada zaman
  dahulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai,
  sehingga dengan demikian Kampung "Medan Putri" yang merupakan cikal bakal Kota      
  Medan, cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting.

  Semakin lama semakin banyak orang berdatangan ke kampung ini dan
 isteri Guru Patimpus yang mendirikan kampung Medan melahirkan anaknya yang 
 pertama seorang laki-laki dan dinamai si Kolok. Mata pencarian orang di Kampung Medan
 yang mereka namai dengan si Sepuluh dua Kuta adalah bertani menanam lada. 
 Tidak lama kemudian lahirlah anak kedua Guru Patimpus dan 
 anak inipun laki-laki dinamai si Kecik.

 Pada zaman Guru Patimpus merupakan tergolong orang yang berfikiran maju.
 Hal ini terbukti dengan menyuruh anaknya berguru (menuntut ilmu) membaca
 Alqur’an kepada Datuk Kota Bangun dan kemudian memperdalam tentang agama Islam ke Aceh.

 Keterangan yang menguatkan bahwa adanya Kampung Medan ini
 adalah keterangan H. Muhammad Said yang mengutip melalui buku
 Deli In Woord en Beeld ditulis oleh N.Ten Cate. 
 Keterangan tersebut mengatakan bahwa dahulu kala Kampung Medan ini merupakan 
 Benteng dan sisanya masih ada terdiri dari dinding dua lapis berbentuk bundaran,
 yang terdapat dipertemuan antara dua sungai yakni Sungai Deli dan sungai Babura.
 Rumah Administrateur terletak diseberang sungai dari kampung Medan. 
 Kalau kita lihat bahwa letak dari Kampung Medan ini adalah di Wisma Benteng,
 sekarang dan rumah Administrateur tersebut adalah 
 kantor PTP IX Tembakau Deli sekarang ini.
 

 Sekitar tahun 1612 setelah dua dasa warsa berdiri Kampung Medan,
 Sultan Iskandar Muda yang berkuasa di Aceh mengirim Panglimanya
 bernama Gocah Pahlawan yang bergelar Laksamana Kuda Bintan untuk
 menjadi pemimpin yang mewakili kerajaan Aceh di Tanah Deli.
 Gocah Pahlawan membuka negeri baru di Sungai Lalang, 
 Percut. Selaku Wali dan Wakil Sultan Aceh serta dengan memanfaatkan kebesaran  Aceh,
 Gocah Pahlawan berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga meliputi
 Percut Sei Tuan dan Kecamatan Medan Deli sekarang.
 Dia juga mendirikan kampung-kampung Gunung Klarus, Sampali, Kota Bangun,
 Pulau Brayan, Kota Jawa, Kota Rengas Percut dan Sigara-gara.

Di belakang Istana  Sultan Deli th 1890.

















 Dengan tampilnya Gocah pahlawan mulailah berkembang 
 Kerajaan Deli dan tahun 1632 Gocah Pahlawan kimpoi dengan putri Datuk Sunggal.
 Setelah terjadi perkimpoian ini raja-raja di Kampung Medan menyerah pada Gocah Pahlawan.

 Gocah Pahlawan wafat pada tahun 1653 dan digantikan oleh puteranya 
 Tuangku Panglima Perunggit, yang kemudian memproklamirkan kemerdekaan
 Kesultanan Deli dari Kesultanan Aceh pada tahun 1669, dengan ibukotanya di Labuhan,
 kira-kira 20 km dari Medan.

 Jhon Anderson seorang Inggris melakukan kunjungan ke Kampung Medan tahun 1823
 dan mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera bahwa penduduk  
 Kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang tapi dia hanya melihat 
 penduduk yang berdiam dipertemuan antara dua sungai tersebut. Anderson menyebutkan 
 dalam bukunya “Mission to the East Coast of Sumatera“ (terbitan Edinburg 1826) bahwa 
 sepanjang sungai Deli hingga ke dinding tembok mesjid Kampung Medan di bangun 
 dengan batu-batu granit berbentuk bujur sangkar. Batu-batu ini diambil 
 dari sebuah Candi Hindu Kuno di Jawa.

 Pesatnya perkembangan Kampung "Medan Putri", juga tidak terlepas dari
 perkebunan tembakau yang sangat terkenal dengan tembakau Delinya, 
 yang merupakan tembakau terbaik untuk pembungkus cerutu. Pada tahun 1863, 
 Sultan Deli memberikan kepada Nienhuys Van der Falk dan Elliot dari 
 Firma Van Keeuwen en Mainz & Co, tanah seluas 4.000 bahu (1 bahu = 0,74 ha) 
 secara erfpacht 20 tahun di Tanjung Sepassi, dekat Labuhan. 
 Contoh tembakau deli. Maret 1864, contoh hasil panen dikirim ke Rotterdam di Belanda, 
 untuk diuji kualitasnya. Ternyata daun tembakau tersebut sangat baik dan 
 berkualitas tinggi untuk pembungkus cerutu.

 Kemudian di tahun 1866, Jannsen, P.W. Clemen, Cremer dan Nienhuys 
 mendirikan de Deli Maatscapij di Labuhan. Kemudian melakukan ekspansi  
 perkebunan baru di daerah Martubung, Sunggal (1869), 
 Sungai Beras dan Klumpang (1875), sehingga jumlahnya 
 mencapai 22 perusahaan perkebunan pada tahun 1874. 
 Mengingat kegiatan perdagangan tembakau yang sudah sangat luas dan berkembang, 
 Nienhuys memindahkan kantor perusahaannya dari Labuhan ke Kampung "Medan Putri". 
 Dengan demikian "Kampung Medan Putri" menjadi semakin ramai dan selanjutnya 
 berkembang dengan nama yang lebih dikenal sebagai "Kota Medan".


 Menurut legenda di zaman dahulu kala pernah hidup di Kesultanan Deli 
 lama kira-kira 10 Km dari Kampung Medan yakni di Deli Tua sekarang s
 seorang Putri yang sangat cantik dan karena kecantikannya diberi nama 
 Putri Hijau. Kecantikan Putri ini tersohor kemana-mana mulai dari 
 Aceh sampai ke ujung Utara Pulau Jawa.

 Sultan Aceh jatuh cinta pada Putri itu dan melamarnya untuk dijadikan permaisurinya. 
 Lamaran Sultan Aceh itu ditolak oleh saudara kedua laki-laki Putri Hijau. 
 Sultan aceh sangat marah karena penolakan itu dianggapnya sebagai penghinaan.
 Maka pecahlah perang antara Kesultanan Aceh dengan Kesultanan Deli.

 Menurut legenda yang tersebut diatas, 
 dengan menggunakan kekuatan gaib seorang dari saudara 
 Putri hijau menjelma menjadi seekor ular naga dan seorang lagi 
 menjadi sepucuk meriam yang tidak henti-hentinya menembaki tentara Aceh 
 hingga akhir hayatnya.

 KesultananDeli lama mengalami kekalahan dalam peperangan itu 
 dan karena kecewa Putra Mahkota yang menjelma menjadi meriam itu 
 meledak sebagian, bagian belakangnya terlontar ke Labuhan Deli 
 dan bagian depannya kedataran tinggi Karo kira-kira 5 Km dari Kabanjahe.

 Putri Hijau ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat 
 kedalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di 
 Ujung Jambo Aye, Putri Hijau mohon diadakan satu upacara untuknya 
 sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, 
 harus diserahkan padanya sejumlah beras dan beribu-ribu telur 
 dan permohonan tuan Putri dikabulkan. 
 Tetapi baru saja uapacara dimulai tiba-tiba berhembuslah angin ribut yang 
 maha dahsyat disusul gelombang-gelombang yang sangat tinggi.

 Dari dalam laut muncullah abangnya yang telah menjelma menjadi 
 ular naga itu dan dengan menggunakan rahangnya yang besar itu diambilnya 
 peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam laut.
 Legenda ini samapai sekarang masih terkenal di kalangan masyarakat Deli 
 dan malahan juga dalam masyarakat Melayu di Malaysia.

 Di Deli Tua masih terdapat reruntuhan Benteng dan Puri yang berasal dari 
 zaman Putri Hijau, sedang sisa meriam penjelmaan abang Putri Hijau itu 
 dapat dilihat di halaman Istana Maimun Medan.

 Belanda yang menjajah Nusantara kurang lebih setengah abad namun untuk 
 menguasai Tanah Deli mereka sangat banyak mengalami tantangan yang tidak sedikit. 
 Mereka mengalami perang di Jawa dengan pangeran Diponegoro sekitar tahun 1825-1830. 
 Belanda sangat banyak mengalami kerugian sedangkan untuk menguasai Sumatera, 
 Belanda juga berperang melawan Aceh, Minangkabau, 
 dan Sisingamangaraja di daerah Tapanuli.

 Jadi untuk menguasai Tanah Deli Belanda hanya kurang lebih 78 tahun 
 mulai dari tahun 1864 sampai 1942. 
 Setelah perang Jawa berakhir barulah Gubernur Jenderal Belanda J.Van den Bosch 
 mengerahkan pasukannya ke Sumatera dan dia memperkirakan untuk 
 menguasai Sumatera secara keseluruhan diperlukan waktu 25 tahun. 
 Penaklukan Belanda atas Sumatera ini terhenti ditengah jalan karena 
 Menteri Jajahan Belanda waktu itu J.C.Baud menyuruh mundur pasukan  
 Belanda di Sumatera walaupun mereka telah mengalahkan 
 Minangkabau yang dikenal dengan nama perang Paderi ( 1821-1837 ).

 Sultan Ismail yang berkuasa di Riau secara tiba-tiba diserang oleh 
 gerombolan Inggeris dengan pimpinannya bernama Adam Wilson. 
 Berhubung pada waktu itu kekuatannya terbatas maka 
 Sultan Ismail meminta perlindungan pada Belanda. 
 Sejak saat itu terbukalah kesempatan bagi Belanda untuk menguasai 
 Kerajaan Siak Sri Indrapura yang rajanya adalah Sultan Ismail. 
 Pada tanggal 1 Februari 1858 Belanda mendesak Sultan Ismail untuk 
 menandatangani perjanjian agar daerah taklukan kerajaan 
 Siak Sri Indrapura termasuk Deli, Langkat dan Serdang di Sumatera Timur 
 masuk kekuasaan Belanda. 
 Karena daerah Deli telah masuk kekuasaan Belanda otomatislah 
 Kampung Medan menjadi jajahan Belanda, 
 tapi kehadiran Belanda belum secara fisik menguasai Tanah Deli.

 Pada tahun 1858 juga Elisa Netscher diangkat menjadi 
 Residen Wilayah Riau dan sejak itu pula dia mengangkat dirinya 
 menjadi pembela Sultan Ismail yang berkuasa di kerajaan Siak. 
 Tujuan Netscher itu adalah dengan duduknya dia sebagai pembela 
 Sultan Ismail secara politis tentunya akan mudah bagi Netscher menguasai 
 daerah taklukan kerajaan Siak yakni 
 Deli yang di dalamnya termasuk Kampung Medan Putri.

  Perkembangan Medan Putri menjadi pusat perdagangan telah 
  mendorongnya menjadi pusat pemerintahan. Tahun 1879, 
  Ibukota Asisten Residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan, 
 1 Maret 1887,Ibukota Residen Sumatera Timur 
  dipindahkan pula dari Bengkalis ke Medan, 
  Istana Kesultanan Deli yang semula berada di Kampung Bahari (Labuhan) 
  juga pindah dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada tanggal 18 Mei 1891, 
  dan dengan demikian Ibukota Deli telah resmi pindah ke Medan.


 Pada tahun 1915 Residensi Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya 
 menjadi Gubernemen. Pada tahun 1918 Kota Medan resmi menjadi 
 Gemeente (Kota Praja) dengan Walikota Baron Daniel Mac Kay. 
 Berdasarkan "Acte van Schenking" (Akte Hibah) Nomor 97 Notaris J.M. de-Hondt Junior, 
 tanggal 30 Nopember 1918, 
 Sultan Deli menyerahkan tanah kota Medan kepada Gemeente Medan, 
 sehingga resmi menjadi wilayah di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda. 
 Pada masa awal Kotapraja ini, Medan masih terdiri dari 4 kampung, 
 yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas, 
 Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir.

 Pada tahun 1918 penduduk Medan tercatat sebanyak 43.826 jiwa yang terdiri 
 dari Eropa 409 orang, Indonesia 35.009 orang, Cina 8.269 orang 
  dan Timur Asing lainnya 139 orang.

 Sejak itu Kota Medan berkembang semakin pesat. Berbagai fasilitas dibangun. 
 Beberapa diantaranya adalah Kantor Stasiun Percobaan AVROS di Kampung Baru (1919), 
 sekarang RISPA, hubungan Kereta Api Pangkalan Brandan - Besitang (1919),  
 Konsulat Amerika (1919), Sekolah Guru Indonesia di Jl. H.M. Yamin sekarang (1923), 
 Mingguan Soematra (1924), Perkumpulan Renang Medan (1924), 
 Pusat Pasar, R.S. Elizabeth, Klinik Sakit Mata dan Lapangan Olah Raga Kebun Bunga (1929).

 Secara historis perkembangan Kota Medan, 
 sejak awal telah memposisikan menjadi pusat perdagangan (ekspor-impor) sejak masa lalu. 
 sedang dijadikannya medan sebagai ibukota deli juga telah menjadikannya 
 Kota Medan berkembang menjadi pusat pemerintah. sampai saat ini disamping 
 merupakan salah satu daerah kota, juga sekaligus sebagai ibukota Propinsi Sumatera Utara.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan